Kemarau dan Isu Kekeringan Dunia

Paris-Miol,

PBB memperkirakan pada 2050, dua pertiga populasi dunia akan hidup dalam kekeringan akibat pemanasan global. Korea Utara, Timur Tengah, dan Asia Barat adalah kawasan-kawasan yang akan mendapat imbas terparah.

Di banyak kawasan, tingkat ketandusan semakin bertambah, curah hujan berkurang, jumlah es dan salju di pegunungan menyusut. Semua gejala alam itu akan berdampak pada keringnya sungai, danau, dan sumber air lainnya. Bertolak belakang dengan keadaan tersebut, sejumlah kawasan lainnya malah akan mendapat curah hujan lebih banyak, yang diikuti dengan badai dan banjir.

Berbagai fenomena alam akibat pemanasan global itu disoroti secara menyeluruh para ahli di Panel Perubahan Iklim Antarpemerintah PBB (IPCC) dalam laporannya yang dipublikasikan di Brussels pada April lalu. Laporan itu adalah yang kedua yang mereka keluarkan setelah menggelar penelitian panjang soal pemanasan global.

Pada peringatan Hari Air Dunia yang jatuh pada 22 Maret, para ahli tersebut memperingatkan betapa berharganya air seiring dengan mulai berlangsungnya pemanasan global.

Melihat laporan PBB yang dimiliki AFP, beberapa kawasan yang berada di garis lintang yang tinggi dan memiliki iklim basah, termasuk di antaranya wilayah berpopulasi padat Asia Timur dan Asia Tenggara, cenderung memiliki ketersediaan air yang meningkat pada abad ini.

Sementara itu, negara-negara yang berada di garis lintang tengah dan iklim tropis kering, yang sudah dilanda masalah air, terancam kekeringan lebih parah.

”Wilayah-wilayah yang dilanda kekeringan akan meningkat, sementara wilayah lainnya akan mengalami curah hujan dalam tingkat ekstrem, dengan frekuensi dan intensitas meningkat, sehingga berisiko besar terendam banjir,” menurut dokumen yang masih dalam tahap penyelesaian tersebut.

Selain itu, ditulis pula volume air dan lapisan salju di gletser cenderung sangat menurun, menyebabkan berkurangnya musim panas dan musim gugur di kawasan-kawasan yang menjadi tempat tinggal dari lebih seperenam populasi dunia.

Di tingkat dunia, diperkirakan pada 2100, suhu akan meningkat 2 C, jika dibandingkan pada level 1990, sehingga dua miliar orang lebih dipastikan berada dalam keadaan kekeringan. Kenaikan suhu 2 C itu merupakan estimasi terendah IPCC. Jika kenaikan suhu yang terjadi 4 C, 3,2 miliar orang lebih yang akan terkena imbasnya. Afrika danAsiaadalah dua benua yang akan terkena dampak paling buruk.

Fenomena alam itu diramalkan juga akan terjadi di negara-negara kaya yang memiliki uang, tenaga ahli, dan sumber daya yang lebih banyak. Mulai dari negara bagian barat daya Amerika Serikat yang tumbuh pesat hingga ke timur laut Australia, ketika air yang didapat dari sungai dan sumber air dialirkan untuk menyirami padang rumput, lapangan golf, dan mengisi kolom renang. Sehingga, perubahan iklim itu pun berarti perubahan besar-besaran dalam gaya hidup. (AFP/Eva/OL-01)

Sumber : http://www.media-indonesia.com




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: